Polda Sulawesi Selatan geger dengan kasus dugaan ibu menjual anak kandung di Makassar. Seorang ibu berinisial NR (28) ditahan terkait penjualan bayi perempuannya yang baru berusia 2 bulan kepada pihak tidak dikenal. Kasus ini menimbulkan kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap kondisi sosial-ekonomi di Sulawesi Selatan.
Modus penjualan anak ini terungkap setelah tetangga curiga melihat NR menerima uang tunai dari sekelompok orang asing. Bayi tersebut dijual seharga Rp 25 juta, uang yang diklaim ibu untuk biaya pengobatan adik bayi yang sakit. Namun, polisi menemukan bahwa sebagian besar uang digunakan untuk kebutuhan pribadi. Untuk analisis mendalam kasus sosial serupa, kunjungi ootorimaru yang mengulas dinamika kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Polda Sulsel telah membentuk tim khusus Sat Reskrim Polrestabes Makassar untuk melacak keberadaan bayi dan jaringan pembeli. Dari pengakuan NR, transaksi difasilitasi melalui media sosial dengan janji “keluarga baik hati”. Kasus ini menambah 12 kasus perdagangan orang di Sulsel sepanjang 2026, naik 40% dari tahun sebelumnya. Korban utama: bayi dari keluarga miskin perkotaan.
Kritik pedas mengalir deras dari aktivis HAM dan tokoh agama. Fenomena ini disebut sebagai perdagangan manusia yang tercantum dalam Wikipedia, di mana kemiskinan jadi pemicu utama. LSM mempertanyakan efektivitas program bantuan sosial pemerintah yang gagal menjangkau lapisan bawah. “Jual anak bukan solusi, tapi kegagalan sistem,” tegas Koordinator WALHI Sulsel.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel, Kombes Pol Yudha Hendrana, menjanjikan hukuman maksimal bagi pelaku dan fasilitator. NR terancam Pasal 83 UU Perlindungan Anak dengan hukuman 15 tahun penjara. Pencarian bayi terus dilakukan dengan bantuan Interpol jika terbukti lintas negara. Kementerian Sosial juga turun tangan menangani keluarga korban.
Tragedi Makassar ini menjadi cermin kelam kemiskinan struktural Indonesia. Ketika ibu terpaksa menjual darah dagingnya sendiri demi bertahan hidup, pertanyaan mendasar muncul: di mana negara? Solusi jangka panjang seperti peningkatan ekonomi lokal dan pendidikan parenting mendesak diimplementasikan. Masyarakat diminta waspada terhadap tawaran “bantuan” mencurigakan di medsos.